Monday, January 28, 2019

Rumah Paradoks

sumber gambar : @_katahatikita


Rumahku tak lagi jatuh ke bumi
rima mistik kebarat-baratan meyakini semesta berinflasi
tiada gravitasi
hanya nurani yang mati suri.


O, aku pernah merindu, akhirnya serupa lalat dalam lilin
aku beruntung, ada rumahmu serupa salju membakar suam dari bongkahan es
membuka misteri dibalik tirai yang terbuka


Iya, aku patut mengucap terima kasih
untuk cintamu yang mencintai tanpa apapun, kosong yang penuh isi!
untuk rumahmu yang penuh dengan penggalan puisi Horace.

Aceh, 28 Januari 2019
* * *

Puisi ini untuk menjawab tantangan keempat @_katahatikita dengan tagar #katahatiproduction dan #katahatichallenge
Penanggungjawab tema : @arcotransep

Saturday, January 26, 2019

Lagu Berjudul “Dia”; Sebuah Kenangan Tentang Seseorang


Nak, ini tentang sebuah lagu dan banyak kenangan didalamnya
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia
* * *
Nak, tiba-tiba malam ini Ummi bersenandung lirih menyanyikan lagu berjudul Dia yang dipopulerkan Anji, sesekali melirik ayahmu yang sibuk membaca sebuah majalah dan kamu yang sedang tertidur lelap. 

Nak, mari Ummi ceritakan makna dari lagu Dia yang membuat Ummi tiba-tiba tersenyum! Lagu itu mengingatkan Ummi tentang seseorang yang dulu menjadi salah satu alasan kuat untuk melihat hal-hal positif dari ketakutan dan kekhawatiran. Lagu itu juga menjadi ungkapan rindu yang sering Ummi perdengarkan ketika menelponnya, kegiatan pelepas rindu untuk memangkas jarak antara Aceh dan Makassar kala itu Nak. Yang sedikit berlebihan, beberapa kali Ummi meneteskan airmata saat menyanyikan lagu itu, berharap waktu itu Ummi sudah ada disampingnya dan menemaninya dalam suka duka. 

Ah, kalau diingat-ingat, lagu berjudul Dia menjadi salah satu "soundtrack" kehidupan cinta Ummi dan seseorang itu Nak. Pun hingga kini, saat Ummi dan dia semakin jauh berjalan bersama, membuat Ummi jatuh cinta setiap harinya apalagi ketika jarak Aceh dan Makassar telah terpangkas karena Ummi kini menjadi istrinya. Yah, dia adalah Ayahmu Nak, sosok laki-laki yang selalu Ummi dambakan dan rindukan.

Tulisan ini adalah tantangan ketiga dari @_katahatikita dengan #katahatiproduction dan #katahatichallenge. Penanggungjawab tema tantangan menginterpretasi lagu ini adalah @amelwidyaa

Wednesday, January 23, 2019

Pernikahan Kami Bukan Sekadar Penyatuan Dua Keluarga, Tapi Sebuah Pelajaran Untuk Dua Kebudayaan

Kelak akan kukisahkan padamu nak tentang pernikahan ummi dan ayah yang menggunakan adat Bugis dan Aceh. Ummi yakin, kamu akan bahagia mendengarnya.
bersama keluarga dari Makassar
Nak, pernikahan ummi dan ayah dilaksanakan pada tanggal 7 Oktober 2017. Hari itu, ummi dan ayah bahagia, perjuangan akan cinta dan cita-cita seolah terangkum menjadi sejuta senyum setelah janji akad tertunaikan. Hari itu semakin dilengkapi dengan kebahagiaan merasakan langsung prosesi pernikahan adat suku Bugis. "Tenang saja nak, kapan-kapan Ummi ceritakan tentang adat pernikahan suku ummi yah. Kali ini, izinkan ummi bercerita tentang adat pernikahan ayahmu, yaitu adat Aceh Selatan yang diadakan beberapa bulan setelah akad nikah dan resepsi ummi dan ayah di kota Makassar.

Nak, resepsi pernikahan ummi dan ayah di Aceh Selatan diadakan pada tanggal 3 dan 4 Februari 2018. Prosesinya sebenarnya panjang dan berhari-hari, namun karena akad telah tertunaikan dan ummi berasal dari provinsi lain, akhirnya hanya sebagian prosesi yang dilaksanakan. Tentu saja ini tak mengurangi kesakralan dan kebahagiaan kami. Meskipun begitu, sebelum kami datang, keluarga ayah melewati beberapa proses seperti permohonan maaf dan izin kepada pemerintah setempat serta bermufakat bersama keluarga besar

Tanggal 3 Februari 2018, tepatnya setelah shalat isya, diadakan Peusijuk, berarti didinginkan. Ummi dan ayah didudukkan bersebelahan. Setelah itu, secara bergantian keluarga ayah memberikan tepung tawar kepada ummi dan ayah sebagai simbol agar keluarga kita "adem" dan menggunakan otak dingin dalam kehidupan kedepannya. Lalu, ummi dipasangkan inai sepanjang malam hingga pagi tiba. Kalau di adat pernikahan Bugis, ini seperti prosesi Mapacci.
prosesi Peusijuk oleh orang tua suami
Keesokan harinya d tanggal 4 Februari 2018, setelah mengenakan pakaian tradisional Aceh, ummi dan  ayah beserta rombongan keluarga ummi; termasuk kakek, nenek dan  adik ummi yang datang dari Makassar mengunjungi rumah ayah. Hari itulah, ummi diantar sebagai istri. Prosesi ini disebut Tueng Dara Baro berarti mengundang mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki.
persiapan menuju rumah suami


penyambutan

Sebelum memasuki rumah dan duduk di kursi pelaminan, rombongan ummi disambut oleh tarian Ranup Lampuan yang diiringi oleh alunan Serunai Kale, sebuah alat musik tradisional Aceh. Ummi dan ayah lalu dipersilahkan duduk dipelaminan. Setelah itu, diadakan prosesi Laga Ayam yang berarti adu ayam. Di prosesi ini, tangan ummi dan ayah yang beradu cepat. Setelah itu, kami saling menyuapi aneka hidangan dengan beragam rasa sebagai gambaran bahwa setelah pernikahan akan ada beragam hal yang kami rasakan. Kemudian, kami saling meminumkan air yang telah dihidangkan. Lalu, bersalaman dengan para tamu yang merupakan undangan dari keluarga ayah. Resepsi ini berlangsung hingga tengah malam. Di malam hari, diadakan pentas seni tradisional yang dimainkan oleh para anggota sanggar seni Seulaweut, UKM Seni UIN Ar-Raniry yang ayah datangkan langsung dari Banda Aceh. Nak, malam itu mereka tampil sangat maksimal menunjukkan beberapa kesenian semisal Rapa'i Geleng dan Saman Gayo. 
anggota Sanggar Seni Seulaweut





Nak, semoga cerita pernikahan ummi dan ayah di Aceh Selatan menjadi tambahan pemahamanmu tentang kebudayaan. Hingga kamu pun semakin belajar bahwa pernikahan kami; ummi dan ayahmu bukan sekadar penyatuan dua keluarga, tapi juga pelajaran dua kebudayaan. Nanti, ummi akan cerita lagi tentang prosesi pernikahan adat Bugis yah, Insya Allah.
akan ada tulisan tentang adat pernikahan suku Bugis. "Just wait!" :)

tulisan ini sebagai bagian pemenuhan tantangan ke-2 Kata Hati Production

Thursday, August 2, 2018

Resensi Buku “Reach Your Dreams”


Penulis : Wirda Mansyur
Tebal : 207 halaman
Penerbit : Gagas Media

Melalui buku berjudul "Reach Your Dream," Wirda Mansyur ingin berbagi semangat kepada pembaca bahwa akan selalu ada jalan untuk mencapai impian, tentu saja dengan berpegang teguh pada Al-Quran. 

Di buku ini juga kita akan menemukan banyak kata positif sebagai bagian penting hidup positif, misalnya:
* Yang membedakan hanya mereka yang berusaha akan membuat impiannya menjadi nyata; dan mereka yang tidak mau berusaha akan membuat impiannya hanya angan-angan belaka (halaman 14)
* Setiap Impian berhak dimiliki semua orang Dan untuk seluruh kalangan (halaman 68)
* Impian bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menebar manfaat kepada banyak orang. Impiannya untuk Allah Dan Karena Allah (halaman 69)

Dengan bahasa yang ringan khas remaja zaman sekarang, Wirda menceritakan sepenggal kisah hidup dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, tetapi dengan terus melibatkan dan mengingat Allah, semuanya bisa dilalui. Hingga siapapun yang membaca buku ini menyadari banyaknya alasan untuk bersyukur.


Overall, buku ini menginspirasi tanpa menggurui, khususnya bisa menginspirasi remaja untuk lebih dekat dekat Allah.

Monday, July 30, 2018

Catatan Singkat Dari Buku Palestine’s Children



Rumah Relawan Remaja (3R) sebagai komunitas sosial yang bekerja untuk kemanusiaan juga memfasilitasi perkembangan literasi. Salah satunya adalah menyediakan perpustakaan yang terbuka umum di sekretariat 3R di Jalan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Beraneka buku disajikan di tempat ini. Salah satunya yang sempat menarik perhatianku adalah buku berjudul Palestine's Children.

Friday, July 27, 2018

Resensi Novel “I’m Sarahza”




Novel yang ditulis Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini mengisahkan  perjuangan lahir batin sepasang suami istri.

Novel ini tentang Hanum, seorang perempuan yang awalnya terkendali oleh modernitas kebablasan, yang dimeteri oleh materi tapi akhirnya memahami bahwa menjadi perempuan pembahagia suami lebih konkret daripada apapun yang dikejar.

Friday, March 2, 2018

Review “My Little Book of Wisdom”


Pekan ini, #2weeksofchallenge mengambil tema Self Development. Saya pun memilih buku berjudul My Little Book of Wisdom yang bisa saya selesaikan dalam 1 hari.

Buku yang ditulis oleh Armand Hartono ini merupakan hadiah untuk dunia yang indah yang telah menunjukkan pada penulis kata-kata yang indah yang merangkum penghargaan, maaf dan pengertian.

Buku ini berisi kumpulan kata-kata inspirasi tentang sikap, wibawa, perubahan, kebiasaan, belajar, cinta dan manajemen. Sebagai contoh tulisan dengan judul Mengapa upaya transformasi gagal di dalam suatu organisasi (disadur penulis dari Leading Change oleh John F. Kotter)
1.    Tidak membangun kepekaan akan kemendesakan yang cukup besar.
2.    Tidak menciptakan tim pemandu yang cukup kuat.
3.    Kurang memiliki visi.
4.    Kurang mengkomunikasikan visi tersebut.
5.    Tidak meniadakan hambatan-hambatan visi.
6.    Tidak merencanakan dan menciptakan kemenangan jangka pendek secara sistematis
7.    Terlalu dini menyatakan kemenangan.
8.    Tidak mencanangkan perubahan dalam budaya perusahaan.

Contoh lain bisa kita lihat pada kata-kata:
Tterdapat perbedaan yang besar antara  “tidak memahami,” “tidak mampu memahami” dan “tidak mau memahami.”


Semoga, buku ini semakin banyak menginspirasi orang dengan pemikiran dan cerita yang indah. 

Friday, January 5, 2018

Belajar Mengkritik Dari Buku “Suaraku, Ekspresiku”

Akhir-akhir ini saya  banyak membaca berbagai tulisan tentang Women Empowerment,  salah satunya Suaraku, Ekspresiku.

Suaraku, Ekspresiku yang merupakan kumpulan tulisan Nurul Imi Idrus, seorang guru besar pertama perempuan di Fisip-UNHAS sekaligus sebagai kolumnis tetap di Koran Harian FAJAR sejak tahun 2007.

Buku Suaraku, Ekspresiku ini sangat menarik karena menggunakan bahasa yang ringan namun mengandung banyak pesan dan kritik. Banyak hal yang dibahas dalam buku ini, bukan hanya persoalan perempuan tetapi hal-hal umum yang mengandung pengetahuan. Mulai dari Pemilu, Korupsi, Seksualitas, Perempuan, Suami-istri, Hari Yang Fitri, Dinamika Kehidupan, Kimia Dan Kemanusiaan,  Onlining, Geliat Waktu, Imajinatif dan Tahun Baru

Sunday, August 28, 2016

Bahagia Jadi Bagian Antrian Panjang Film Uang Panai

Sejak diputar perdana pada tanggal 25 Agustus 2016, film Uang Panai membuat antrian panjang untuk mendapatkan tiketnya. Film ini tidak hanya menarik orang-orang dewasa, tapi juga remaja bahkan anak-anak.

Wednesday, August 17, 2016

Kusuma Berani Tolak Tawaran PNS Untuk Jadi Atlet Panah Indonesia


Itulah salah satu bagian yang ada dalam film 3  Srikandi. Film Indonesia yang berkisah tentang 3 atlet wanita cabang panahan yang meraih medali di ajang Olimpiade Musim Panas tahun 1988 di Seoul. Para perempuan itu adalah Kusuma (Tara Basro), Lilies (Chelse Islan) dan Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari). Mereka bertiga akhirnya dilatih oleh Donald Pandiangan (Reza Rahardian) yang sudah lama mengkhilang karena terpukul di tahun 1980 saat dia batal mengikuti Olimpiade Moskow karena alasan politik.

Wednesday, August 10, 2016

MEC Ratulangi, Kafe Untuk Nongkrong Sambil Belajar Bahasa Inggris


Mau nongkrong sambil belajar Bahasa Inggris? Mau dengar life music atau ikutan nyanyi ala artis kafe? Mau merasakan atmosfer positif anak muda? Semuanya bisa kita dapatkan di Mindset English Cafe (MEC) Indonesia cabang Ratulangi, bagian dari MEC Indonesia yang merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang edukasi dan entertainment.  

Friday, July 15, 2016

Rudy Habibie; Film Yang Ciptakan Berbagai Perasaan

Pembuka film ini sudah menciptakan berbagai perasaan. Bermula dari serangan bom sekutu yang membuat ketakutan, keinginan kuat Rudy Habibie kembali mengambil meccano dan buku meski dalam keadaan sekutu melancarkan aksinya, hingga kematian papi Rudy (Alwy Habibie) pada waktu sujud saat mengimami keluarganya melaksanakan ibadah shalat yang akan membuat kita menitikkan air mata.

Prekuel dari kisah “Habibie & Ainun” ini mengisahkan perjuangan Rudy (yang diperankan oleh (Reza Rahardian) yang belajar di RWTH Aachen, Jerman. Disini kita melihat pengorbanan keluarga dalam mencapai cita-cita Rudy untuk membuat pesawat seperti pesan almarhum papinya. Di Aachen ini Rudy selalu mengalami perasaan “rindu rumah” dan  memaknai lebih tentang persahabatan, cinta, kemerdekaan yang butuh integritas hingga nasionalisme melalui keterlibatannya sebagai ketua PPI Aachen.

Friday, June 24, 2016

5 Alasan Saya Suka Nonton Descendants of The Sun

Descendants of The Sun (DoTS) adalah salah satu drama korea favorit yang pernah saya tonton. Banyak orang pun yang sepertinya suka drama ini, khususnya mereka penggemar drama dari Korea Selatan. Meskipun sudah beberapa minggu selesai, drama ini masih ditonton oleh banyak orang. Seorang teman saya pun mengulang untuk menonton drama ini berkali-kali.