Monday, June 8, 2026

Membaca Pengungsi: Belajar Memahami Kehilangan dari Halaman Buku

 


6 Juni 2026, kami kembali duduk bersama di ruang baca sederhana kami di Pustaka Kampung Impian di Desa Lam Lumpu (Pustaka 3R) . Lantai kayu, tumpukan buku, dan lingkaran kecil yang penuh rasa ingin tahu. Hari itu, kami memilih untuk mengulas buku-buku dengan tema pengungsi.

Bukan tema yang ringan. Tapi justru karena itulah, penting untuk dibaca. Di antara halaman-halaman itu, kami tidak hanya menemukan cerita. Kami menemukan kehilangan.

Kami membaca tentang perempuan dari Palestina dan Pakistan. Tentang pejuang anti-rasisme dari Amerika. Tentang sekelompok Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya. Dari cerita-cerita itu, perlahan kami mencoba membayangkan bagaimana rasanya harus pergi dari rumah, meninggalkan segala yang dikenal, tanpa tahu kapan bisa kembali.

Membaca membuat kami berhenti sejenak dari kehidupan kami sendiri. Membawa kami masuk ke kehidupan orang lain, yang mungkin tidak pernah kami temui secara langsung. Dan di situlah kami belajar. Bahwa menjadi pengungsi bukan hanya soal berpindah tempat. Ia adalah tentang kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, bahkan kadang kehilangan identitas. Sesuatu yang mungkin selama ini terasa jauh dari kehidupan kami, namun nyata bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia. 

Di ruang kecil ini, kami mencoba memahami dunia yang lebih luas. Kami percaya, membaca bukan hanya soal menambah pengetahuan. Ia adalah cara untuk melatih empati. Untuk belajar merasakan, meski tidak mengalami. Untuk membuka hati, meski cerita itu terasa berat. Karena mungkin, dunia yang lebih damai tidak dimulai dari hal-hal besar. Tapi dari kesediaan kita untuk memahami satu sama lain.




Bulan depan, kita akan mengulas buku lagi, karena ini adalah agenda bulanan di Rumah Relawan Remaja. Buku yang akan diulas adalah “buku dengan sampul berwarna merah.” Bisa update info jadwal mengulas di @rumahrelawanremajaofficial@pustakakampungimpian,  atau di @itsbibliopediacafe. Sampai jumpa di Juli.

Thursday, May 14, 2026

Membawa Suara dari Aceh ke Filipina

Sudah setahun belum menulis lagi di blog ini. Padahal rasanya, setiap hari ada unggahan di instagram pribadi @rahmiana_rahman. 

Tahun ini, ada beberapa perjalanan ke luar Aceh. Selain tetap membersamai korban banjir di Aceh di beberapa kabupaten, tahun 3R mendapatkan undangan untuk menghadiri Global Landscape Forum di Filipina. Beberapa hal menjadi "take away" dan tentunya penguat bahwa gerakan-gerakan akar rumput yang konsisten akan berdampak besar.















Sunday, March 23, 2025

Minggu Pagi di Pustaka: Plastik, Ecobrick, dan Seorang Anak Kecil

 


Sehari setelah pulang dari Desa Lapeng, Pulo Aceh, plastik-plastik kembali terkumpul.

 

Tumpukan plastik ini juga kami bawa pulang dari Pulo, karena tidak sempat kami buat ecobrick di sana, jadilah sebagai "oleh-oleh" kembali ke daratan, tepatnya di Peukan Bada.

 

Meskipun hari Minggu, yang bagi sebagian orang waktu yang tepat untuk istirahat, tapi badan menggerakkanku menuju pustaka. Di sana, memang sudah banyak botol Ecobrick yang sudah kami buat selama 5 tahun ini.

 

Saat sibuk dengan proses log-in di aplikasi gobrick untuk memberi penomoran pada ecobrick yang sudah dibuat, anak kedua saya bernama Lubna (2,5 tahun) ternyata sibuk dengan aktivitas menggunting plastik. Potongan kecil plastik itu dimasukkan ke dalam 1 wadah. Proses ini memang sering dilakukan baik oleh saya dan suami, pun para relawan Rumah Relawan Remaja agar postingan plastik tersebut tidak berserakan.

 

Sepertinya itulah cara Lubna, anak 2,5 tahun mengamati orang dewasa di sekitarnya, yang berjuang mengolah plastik yang sudah dipakai agar tidak kembali mencemari bumi, dengan membuat ecobrick.

 

Peukan Bada, 23 Ramadan 1446 Hijriah

 

 

 

Saturday, March 22, 2025

Tiga Pemuda, Satu Motor, dan Pelanggaran di Bulan Suci

 



Hari ke-22 Ramadan. Perjalanan pulang dari Pulo Aceh menuju Banda Aceh siang itu terasa panjang. Matahari bersinar terik, tapi suasana Ramadan seharusnya membuat jalanan lebih tenang, penuh dengan ketundukan hati. Namun, pandanganku dan suami justru tertumbuk pada pemandangan yang tidak biasa: tiga pemuda mengendarai satu motor, sambil asyik mengunyah roti.

 

Aceh, tanah Serambi Mekah, di mana Ramadan dihormati dengan khidmat. Tapi di sini, tiga pemuda ini justru melanggar dua hal sekaligus: tidak berpuasa, dan membuang sampah sembarangan.

 

"Ini Ramadan! Macam bukan di Aceh saja," tegur suamiku sambil terus berkendara di samping motor ketiga pemuda tersebut. 


Wajah mereka langsung berubah. Kaget, malu, dan salah tingkah. Salah seorang dari mereka buru-buru melemparkan bungkus roti ke jalan. Melihat itu, suaraku keluar "Sudah tidak puasa, buang sampah sembarangan lagi? Astaghfirullah.


Motor ketiga pemuda yang tidak puasa itu semakin dilaju cepat untuk menghindari kami. Sepanjang perjalanan sampai di rumah pun, aku melakukan refleksi bahwa Ramadan seharusnya menjadi bulan di mana kita lebih peka—bukan hanya pada ibadah, tapi juga pada lingkungan dan sikap kita di depan umum.

 


Friday, March 21, 2025

From Garden to Table



Selanjutnya, saya mau cerita tentang Ramadan hari ke-21, masih di Kebun Impian bersama keluarga kesayangan Rumah Relawan Remaja. Hari itu, seperti biasa, yang piket masak mencari sesuatu di area kebun untuk dimasak. Senang sekali, kita bisa juga saling mengingatkan tentang pentingnya real food, apalagi from garden to table seperti yang kami lakukan di Kebun Impian ini

 

Hari ke-21 Ramadan tiba dengan cahaya matahari yang hangat menyelinap melalui celah daun-daun rindang di Kebun Impian. Udara pagi masih segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang baru saja dibasahi embun. Seperti biasa, tim Rumah Relawan Remaja—aku, Bang Romi, Salam, Lubna, Uma, Abu, Yanah, Maulidin, dan Afdhal—sudah bersiap mengisi hari dengan aktivitas penuh makna.

 

Hari ini, giliran Uma dan Putri yang bertugas memasak untuk sahur dan berbuka. Tapi di sini, masak bukan sekadar membuka kulkas atau belanja ke warung. Kami punya kebun sendiri, penuh dengan sayuran segar yang siap dipanen. From garden to table—prinsip yang kami pegang teguh di sini.

 

Thursday, March 20, 2025

Petualangan Hari ke-20 Ramadan di Desa Lapeng : Pagi yang Syahdu bersama tim Rumah Relawan Remaja


Hari kedua kami di Desa Lapeng dimulai dengan keheningan yang menenangkan. Matahari belum sepenuhnya bangkit, tetapi langit sudah mulai memancarkan cahaya keemasan yang perlahan menyapu kegelapan. Suara jangkrik malam mulai digantikan oleh kicauan burung-burung kecil yang bersahutan dari balik pepohonan. Di tengah Kebun Impian ini, udara terasa begitu segar, seolah setiap tarikan napas membersihkan jiwa.

Kami—saya, suami saya Bang Romi, serta dua anak kami, Salam dan Lubna—bersama tim hRumah Relawan Remaja lainnya, yaitu Uma, Abu, Yanah, Maulidin, dan Afdhal, memulai hari dengan aktivitas mandiri. Seperti biasa, Ramadan mengajarkan kami untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang bermakna. Beberapa dari kami memilih untuk mengaji, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menenangkan hati. Yang lain asyik membaca buku, menikmati setiap kata sambil sesekali menengok ke luar jendela, di mana alam seakan tersenyum menyambut kami.

Kebun Impian dan Keindahan yang Dijaga

Desa Lapeng bukan sekadar desa biasa. Di sini, alam seolah dirawat dengan penuh cinta. Pepohonan rindang, hamparan sawah yang hijau, dan udara bersih yang jarang ditemui di kota. Kami tinggal di sebuah kebun kecil tempat tim Rumah Relawan Remaja belajar tentang pertanian organik.

Setiap pagi, kami disambut oleh aroma tanah yang baru disirami embun, dicampur dengan wangi  bunga-bunga liar yang bermekaran.

Saya duduk di "Rumoh shelter", menyelesaikan halaman demi halaman Al-Qur'an yang sedang kubaca. 

Aktivitas membaca tersebut nampak hingga siang hari. Menjelang sore, kami pun berkumpul di area dapur, menyaksikan 2 orang relawan piket masak hari itu.  Suasana dapur riuh rendah dengan 

obrolan dan tawa. Kadang-kadang, obrolan tentang menu yang sedang dimasak jadi tema utama yang membuat tertawa. 

Menu buka puasa di Ramadan ke-20 ini  sederhana tetapi terasa begitu istimewa karena dimasak bersama. Kami duduk melingkar di area makan depan dapur sambil berbagi cerita.

Setelah masakan selesai, sebelum berbuka puasa, ada yang memutuskan untuk berjalan-jalan ke bagian belakang Kebun Impian untuk mencari kerang. Meski akhirnya pulang dengan tangan kosong, semuanya nampak senang petang itu.

Refleksi di Hari Ke-20 Ramadan 

Saat saya mencabut rumput di kebun, saya merenungkan hari ini. Betapa beruntungnya kami bisa merasakan kedamaian seperti ini. Di hari ke-20 Ramadan ini, bukan hanya lapar dan dahaga yang kami rasakan, tetapi juga kebersamaan, kesederhanaan, dan keindahan alam yang Allah berikan.

Tim Rumah Relawan Remaja ini bukan hanya sekadar teman, tapi sudah seperti keluarga. Setiap orang membawa cerita, tawa, dan pelajaran sendiri.

Saya kembali tersenyum. Betapa indahnya hidup ketika kita bisa berbagi, belajar, dan mencintai alam bersama orang-orang terkasih.

Pulo Aceh, 20 Ramadan 1446 Hijriah

Wednesday, March 19, 2025

Berbuka Puasa di Lapeng: Menemukan Hening Ramadan di Ujung Negeri

 


Sudah sembilan tahun Rumah Relawan Remaja berkegiatan di Desa Lapeng, tapi setiap kali kembali, rasanya seperti pertama kali. Kali ini, kami datang dengan kerinduan yang lebih besar: ingin merasakan lagi heningnya Ramadan di desa ini—saat waktu terasa lambat.

 

Kapal nelayan yang membawa kami hari itu masih sama, tapi cerita dibaliknya selalu baru. Kali ini, momen berpuasa ditemani semilir angin sepanjang perjalanan, membuat mata menolak untuk tidur. Hingga , tiada terasa perjalanan lebih dari 2 jam begitu saja berlalu.

 

Ketika mata terbuka, tampaklah deretan kapal kecil bersandar di pelabuhan. Orang-orang berkumpul di depan kami, menunggu kapal yang kami tumpangi ini berhenti. Ada yang menjemput sanak keluarga, ada juga yang menunggu barang kiriman dari kota Banda Aceh.

 

Setelah tiba di Pelabuhan Gugop, perjalanan kami lanjutkan menggunakan motor yang kami bawa dari Rumah Relawan Remaja. Total, ada 3 motor.

 

Sekitar 20 menit, dari Gugop ke Lapeng. Setelah memasuki gerbang Lapeng, tidak lama kemudian di depan masjid, berdiri beberapa anak yang kemudian memanggil namaku “Kak Ammy”, kujawab dengan lambaian tangan, karena motor memang tak biasanya berhenti. Lambaian tanganku pun berarti sapaan balik dan menandakan kedatanganku kembali ke desa ini. Besok, akan saya ceritakan lagi pengalamaan Ramadan di sini.


Intinya, menjelang petang, kami tiba dengan disambut pemandangan hijau dari Kebun Impian desa Lapeng. Hening, namun menenangkan!

 

Pulo Aceh, 19 Ramadan 1446 Hijriah