Sunday, December 24, 2017

Tsunami Bukanlah Laknatullah, Tapi Sebuah Sunnatullah

Catatan Pertama Dari Diskusi Publik 
“Refleksi 13 Tahun Tsunami Aceh”

Ketika mendapatkan informasi akan diikutkan Diskusi Publik “Refleksi 13 Tahun Tsunami Aceh,” saya merasa bahagia karena saya selalu yakin tiap mengikuti diskusi atau seminar akan ada ilmu baru yang didapat.

Diskusi Publik yang dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2016 di Aula Penanggulan Bencana Aceh ini merupakan rangkaian dari peringatan 13 tahun tsunami yang terjadi 2004 silam di Aceh. Kegiatan ini mengundang berbagai komunitas yang peduli pada pengurangan resiko bencana, salah satunya Rumah Relawan Remaja.

Kegiatan yang rencananya dimulai pukul 8 pagi itu, baru dimulai pada pukul 09.12 waktu setempat. Setelah MC membuka kegiatan dan mengundang Adik Ayunda melantunan ayat suci Al-Quran, MC mengundang beberapa perwakilan komunitas untuk memaparkan pernyataan terkait 13 tahun Tsunami Aceh.  
Adik Ayunda melantukan Ayat Suci Al-Qur'an
Berikut beberapa kutipan pernyataan dari perwakilan komunitas

CIMSA FK Unsyiah
Bukan lagi masa untuk terus melihat masa lalu, tapi melihat apa yg bisa dilakukan. 

Earth Hour
Banyak yang ingin melihat  Aceh bangkit

Ex Relawan PMI
Ditandatanginya MoU Helsingki. Saat itu dalam puncak eskalasi politik yang membuat konflik GAM Dan TNI Polri. Tapi saat tsunami terjadi kemanusiaan membawa semua bangsa untuk turun ke Aceh. 
Perwakilan Komunitas Kelas Inspirasi memaparkan refleksinya. 
Setelah pemaparan komunitas, sesi pertama diskusi dimulai dengan 2 pemateri, Drs. H. Sulaiman Abda , Wakil Ketua DPR Aceh dengan materi Penguatan Fungsi DPRA Terhadap Pengurangan Bencana Di Aceh. Sesi beliau dimulai dengan cerita hari ketika tsunami terjadi dan diselamatkan Allah di atas masjid. Selanjutnya beliau memaparkan tentang budget 330 Milyar bantuan yang dikeluarkan pemerintah terkait pengurangan resiko bencana di tahun 2017. “Kita harus sadar bahwa Aceh adalah daerah rawan bencana. Yang penting, kita sepakat bersama mengurangi resiko bencana tersebut.”
Drs. H. Sulaiman Abda memaparkan materinya

Pemateri kedua di sesi pertama tersebut adalah Ir. M. Syahrir M.M, Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Aceh dengan materi Pengurangan Resiko Bencana Sebagai Investasi. Dalam paparannya tersebut, Pak Syahrir berharap bahwa setiap program yang ada harus disertai kajian mendalam. “Pembangunan di Aceh akan sia-sia apabila dalam pelaksanaannya tidak ada kajian-kajia resiko bencana”, tuturnya.
* * *
para undangan diskusi publik
Tsunami meluluhlantahkan Aceh, menghilangkan banyak nyawa, merusak berbagai infrastruktur. Tapi, pada akhirnya, kita harus meyakini bahwa tsunami Aceh yang terjadi di tahun 2014 dan merupakan tsunami terdahsyat ketiga di dunia bukanlah Laknatullah, tapi Sunnatullah. Saat ini, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta, memperingati tsunami bukan dengan perayaan-perayaan yang menghabiskan milyaran dana hanya sebagai seremoni melainkan melalui ribuan doa untuk para korban Syuhada serta melakukan sinergitas dengan berbagai pihak untuk mengurangi resiko bencana. Semoga bukan sebuah kesimpulan “abal-abal” dari saya yang baru beberapa hari ini di Aceh. 

Baca juga
http://rahmianarahman.blogspot.co.id/2017/12/jangan-memaknai-takdir-secara-fatalistik.html

0 comments:

Post a Comment